Panduan Interaktif untuk Memahami Perbedaan Penentuan Awal Ramadhan 2026
Setiap menjelang Ramadhan, pertanyaan yang sama muncul: "Kok beda sih mulai puasanya?"
Jawabannya ternyata bukan tentang siapa yang "benar" dan siapa yang "salah" — tapi tentang bagaimana manusia memilih alat dan kriteria untuk menentukan kapan bulan baru dimulai.
Semua sepakat: pergantian bulan Hijriyah ditandai oleh hilal (bulan sabit baru yang sangat tipis setelah bulan mati/konjungsi).
Yang berbeda: Bagaimana cara memastikan hilal itu "sudah ada"?
Perbedaan bukan tentang agama vs sains.
Keduanya menggunakan sains.
Perbedaannya ada di: sejauh mana hadits Nabi tentang "melihat hilal" dipegang sebagai metode utama, vs menggantinya dengan perhitungan.
Hilal adalah bulan sabit pertama yang terlihat setelah fase "bulan mati" (new moon / konjungsi).
Saat konjungsi, Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari — sehingga sisi gelap Bulan menghadap Bumi. Tak ada yang bisa dilihat.
Setelah konjungsi, Bulan mulai bergeser, dan sebagian kecil permukaannya mulai memantulkan cahaya Matahari ke Bumi. Sabit tipis inilah yang disebut hilal.
Seberapa tinggi bulan di atas horizon saat matahari terbenam. Semakin tinggi = semakin mudah terlihat.
Minimal ~3° untuk bisa terlihat mata (MABIMS). Muhammadiyah (lama) cukup >0°.
Jarak sudut antara Bulan dan Matahari. Semakin jauh = sabit semakin tebal dan terang.
Danjon Limit: di bawah 7° elongasi, hilal MUSTAHIL terlihat bahkan dengan teleskop.
Apakah bulan terbenam sebelum atau sesudah matahari? Kalau bulan terbenam duluan, hilal tidak mungkin terlihat.
Berapa jam sejak konjungsi? Semakin lama = sabit semakin tebal. Biasanya perlu 15-24 jam minimum.
Semua metode di bawah menggunakan ilmu astronomi. Perbedaannya: di mana garis batas "hilal sudah ada" ditarik.
Perhitungan astronomi itu alat, bukan penentu.
Manusia-lah yang memilih kriteria dan standard mana yang dipakai.
Buktinya? Muhammadiyah tahun ini mengganti alat/kriteria mereka — hasilnya berubah.
| Pihak | 1 Ramadhan | Metode |
|---|---|---|
| MUHAMMADIYAH | 18 Feb 2026 | KHGT (baru) |
| PEMERINTAH RI | 19 Feb 2026* | Sidang Isbat + MABIMS |
| NU | 19 Feb 2026* | Rukyatul Hilal |
| 🇸🇦 Arab Saudi | 19 Feb 2026* | Rukyat lokal |
| 🇸🇬🇲🇾🇧🇳 MABIMS | 19 Feb 2026* | Imkanur Rukyah |
*Menunggu sidang isbat/rukyat resmi, tapi secara astronomi sangat kuat ke 19 Feb.
Satu hari lebih awal dari hampir seluruh dunia Islam — termasuk Makkah dan Madinah.
Peta visibilitas hilal pada 17 Feb 2026 maghrib — tidak ada daratan yang bisa melihat hilal
Dengan wujudul hilal (metode lama), Muhammadiyah akan cek pada 18 Feb maghrib:
→ SAMA dengan pemerintah, NU, Saudi, dan seluruh dunia Islam!
Indonesia akan mulai puasa bersama-sama.
Dengan kriteria baru, mereka menetapkan 1 Ramadhan = 18 Feb, satu hari lebih awal dari seluruh dunia.
Perubahan alat → hasil berbeda.
Awal Ramadhan dan Lebaran adalah KEPUTUSAN MANUSIA tentang kriteria mana yang dipilih.
Bukan wahyu. Bukan otomatis. Tapi hasil dari manusia yang memilih alat dan standar.
Sains astronominya sama persis — yang berbeda adalah batasan yang dipilih manusia.
1️⃣ Kalau wujudul hilal bisa diganti demi "persatuan umat global" — kenapa tidak dari dulu diganti demi persatuan Indonesia?
2️⃣ KHGT menggunakan Garis Batas Tanggal Internasional (di Samudera Pasifik) sebagai referensi. Garis ini adalah konsep Barat modern, bukan dari peradaban Islam. Apakah tepat menjadi dasar kalender "Hijriah"?
3️⃣ Indonesia di ujung timur dunia Islam. Dengan KHGT, Indonesia bisa mendahului Makkah dalam memulai Ramadhan. Apakah ini "menyatukan" atau justru "memisahkan"?
4️⃣ Dengan bukti bahwa kriteria bisa diganti dan hasilnya berubah — bukankah ini menunjukkan bahwa semua pihak sebenarnya bisa duduk bermusyawarah untuk memilih satu kriteria bersama demi kemaslahatan?
Ini bukan anti-sains. NU menggunakan perhitungan astronomi canggih (kriteria IRNU: ≥3° altitude, ≥6,4° elongasi). Bahkan kriteria ini LEBIH ketat dari wujudul hilal Muhammadiyah yang cuma >0°.
Bedanya: bagi NU, perhitungan itu alat bantu. Keputusan akhir tetap pada rukyat (pengamatan) sesuai perintah hadits. Jika ada yang bersaksi melihat hilal dan sidang isbat menerima kesaksian itu — maka itulah yang berlaku.
Cek apakah kamu sudah paham perbedaannya!